Laman

Senin, 20 Juni 2011

bukan sekedar impian

BAB I
Sekapur sirih
Hari yang sangat, karena hari ini adalah hari Minggu tanggal 12 Juni 2011. Biasanya hari Minggu yang sangat cerah ini digunakan untuk beristirahat dan berifressing ke suatu tempat bersama keluarga dari semua kepenatan selama 6 hari bekerja. Tetapi buatku tidak, tidak ada hari libur, tidak ada waktu untuk bersenang yang ada hari bekerja bekerja dan bekerja. Menurutku hari libur itu hanya untuk kalangan orang atas.
Namaku Ahmad Solihin, aku terlahir dari keluarga yang tidak mampu, bapakku seorang pemulung sampah yang biasa mengambil sampah dirumah – rumah besar di perumahan yang bisa di golongkan rumah elite. Dan setiap harinya bapakku hanya diberi upah lima belas ribu rupiah untuk sekali memulung. Ibuku hanyalah seorang pembantu rumah tangga serabutan yang gajinya tidak pasti. Ibuku bekerja hanya untuk membantu kehidupan kami. Akupun membantu bapakku dan ibuku bekerja dengan menjadi penagamen jalanan. Aku mempunyai cita – cita yaiutu menjadi seorang presiden yang bisa mensejahterakan rakyat Indonesia.
Walaupun aku dan teman – temanku tak mampu bersekolah dengan layak tapi ada kakak – kakak kuliah yang baik hati membangun sekolah pinggiran untuk aku dan teman – teman. Walaupun dengan kondisi yang seadanya kami merasa senang dan gembira karena kami mempunyai kakak – kakak yang baik hati yang senantiasa membantu kami untuk menjadi cerdas.  Aku dan teman – teman biasanya sehabis pulang sekolah kami bekerja menjadi penagamen jalanan. Walaupun hasilnya tak seberapa banyak yang terpenting aku bisa meringankan beban orang tuaku.
Walapun dengan kondisi yang serba kekurangan aku dan teman – temanku tak pernah mengeluh dengan kondisi seperti ini. Dan akupun mempunyai cita – cita yang tinggi, yaitu mensejahterakan rakyat – rakyat Indonesia, aku ingin menjadi presiden yang bisa membuat rakyat – rakyat Indonesia menjadi sejahtera. Walaupun cita – citaku terlalu berandai – andai apa lagi dengan kondisi ekonomi yang kurang memadai, tak ada salahnya orang kecil seperti aku ini bercita – cita menjadi presiden. Aku kasian dengan kondisi negaraku yang semakin hari semakin tidak karuan. Sering aku melihat di tv warung kopi pak Ade tentang kondisi politik yang selalu membicarakan tentang korupsi yang merajalela di Indonesia.
Bapakku selalu bilang : “nak kita ini hanyalah rakyat kecil, jangan kamu bermimpi untuk menjadi presiden, pemerintah saja yang sudah hidup makmur masih belum bisa mensejahterakan rakyat kecil seperti kita, apa lagi kamu yang notabennya dari rakyat kecil mau mensejahterakan rakyat, tidak bisa nak”.
Lalu aku mencetus “mengapa aku tidak bisa pak? Apa kita sebagai rakyat kecil tidak boleh mempunyai suatu impian yang mungkin suatu saat kelak bisa terwujud jika kita berusaha semaksimal mungkin?”.
bapakku menjawab lagi “ bukannya tidak mungkin nak, tapi kita tidak usah bermimpi terlalu jauh, kita berfikir untuk makan esok hari kita juga belum tahu, bisa makan atau tidak. Bapak tahu kamu sangat antusias dengan cita – citamu, tetapi kamu jangan berfikir terlalu jauh kesana”.
“baiklah pak” aku menjawab dengan nada sedikit kecewa karena bapakku tidak mendukung tentang cita - citaku. Tapi aku yakin suatu saat nanti dengan izin Allah aku akan mensejahterakan semua rakyat Indonesia. Ini adalah janji aku kepada diri dan demi golongan sepertiku. Orang kecil itu boleh mempunyai impian.




I have a dream to achieve