BAB I
Sekapur sirih
Hari yang sangat, karena hari ini adalah hari Minggu tanggal 12 Juni 2011. Biasanya hari Minggu yang sangat cerah ini digunakan untuk beristirahat dan berifressing ke suatu tempat bersama keluarga dari semua kepenatan selama 6 hari bekerja. Tetapi buatku tidak, tidak ada hari libur, tidak ada waktu untuk bersenang yang ada hari bekerja bekerja dan bekerja. Menurutku hari libur itu hanya untuk kalangan orang atas.
Namaku Ahmad Solihin, aku terlahir dari keluarga yang tidak mampu, bapakku seorang pemulung sampah yang biasa mengambil sampah dirumah – rumah besar di perumahan yang bisa di golongkan rumah elite. Dan setiap harinya bapakku hanya diberi upah lima belas ribu rupiah untuk sekali memulung. Ibuku hanyalah seorang pembantu rumah tangga serabutan yang gajinya tidak pasti. Ibuku bekerja hanya untuk membantu kehidupan kami. Akupun membantu bapakku dan ibuku bekerja dengan menjadi penagamen jalanan. Aku mempunyai cita – cita yaiutu menjadi seorang presiden yang bisa mensejahterakan rakyat Indonesia.
Walaupun aku dan teman – temanku tak mampu bersekolah dengan layak tapi ada kakak – kakak kuliah yang baik hati membangun sekolah pinggiran untuk aku dan teman – teman. Walaupun dengan kondisi yang seadanya kami merasa senang dan gembira karena kami mempunyai kakak – kakak yang baik hati yang senantiasa membantu kami untuk menjadi cerdas. Aku dan teman – teman biasanya sehabis pulang sekolah kami bekerja menjadi penagamen jalanan. Walaupun hasilnya tak seberapa banyak yang terpenting aku bisa meringankan beban orang tuaku.
Walapun dengan kondisi yang serba kekurangan aku dan teman – temanku tak pernah mengeluh dengan kondisi seperti ini. Dan akupun mempunyai cita – cita yang tinggi, yaitu mensejahterakan rakyat – rakyat Indonesia, aku ingin menjadi presiden yang bisa membuat rakyat – rakyat Indonesia menjadi sejahtera. Walaupun cita – citaku terlalu berandai – andai apa lagi dengan kondisi ekonomi yang kurang memadai, tak ada salahnya orang kecil seperti aku ini bercita – cita menjadi presiden. Aku kasian dengan kondisi negaraku yang semakin hari semakin tidak karuan. Sering aku melihat di tv warung kopi pak Ade tentang kondisi politik yang selalu membicarakan tentang korupsi yang merajalela di Indonesia.
Bapakku selalu bilang : “nak kita ini hanyalah rakyat kecil, jangan kamu bermimpi untuk menjadi presiden, pemerintah saja yang sudah hidup makmur masih belum bisa mensejahterakan rakyat kecil seperti kita, apa lagi kamu yang notabennya dari rakyat kecil mau mensejahterakan rakyat, tidak bisa nak”.
Lalu aku mencetus “mengapa aku tidak bisa pak? Apa kita sebagai rakyat kecil tidak boleh mempunyai suatu impian yang mungkin suatu saat kelak bisa terwujud jika kita berusaha semaksimal mungkin?”.
bapakku menjawab lagi “ bukannya tidak mungkin nak, tapi kita tidak usah bermimpi terlalu jauh, kita berfikir untuk makan esok hari kita juga belum tahu, bisa makan atau tidak. Bapak tahu kamu sangat antusias dengan cita – citamu, tetapi kamu jangan berfikir terlalu jauh kesana”.
“baiklah pak” aku menjawab dengan nada sedikit kecewa karena bapakku tidak mendukung tentang cita - citaku. Tapi aku yakin suatu saat nanti dengan izin Allah aku akan mensejahterakan semua rakyat Indonesia. Ini adalah janji aku kepada diri dan demi golongan sepertiku. Orang kecil itu boleh mempunyai impian.
I have a dream to achieve
BAB II
Secangkir impian
Bapakku tidak mendukung aku tentang impianku untuk menjadi seorang presiden. Tapi aku tetap gigih dengan cita – citaku. Walaupun impianku 98% pasti tidak akan terwujud, tapi aku masih punya harapan 2% dan aku ingin 2% itu bisa aku jadikan 100%. Senang rasanya bila bisa menyenangkan rakyat – rakyat kecil dengan cara membantunya dengan usahaku sendiri.
Bila memang tak ada harapan untuk menjadi presiden yang terpenting aku bisa membuat rakyat - rakyat sejahtera. ya aku pasti bisa. Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah, aku dan teman – teman harus bergegas – gegas berangkat untuk sekolah. Ternyata disana sudah ada kak Sil, dan kak Yudi. Dia adalah guru kami, kak Sil adalah guru yang mengajarkan kami bahasa inggris dan bahasa Indonesia, dan kak Yudi bertugas mengajarkan kami berhitung.
Aku pernah ditanya oleh Kak Yudi, “ Apa cita – cita kamu Ahmad? ”, aku menjawab dengan polos “ Presiden Kak , aku mau mensejahterakan teman – teman yang ada disini ”, lalu teman – teman mentertawakan aku karena begitu tingginya cita – cita yang ingin aku capai. Temanku Solihin berkata” Woi Mad jangan mimpi deh jadi seorang presiden, kita saja sekolah disini sudah bersyukur, kamu so’ – so’an mau jadi presiden” aku hanya memberikan senyuman kecil. Sempat berfikir sejenak mengapa semua orang meremehkan cita – citaku ini? Apa aku tak pantas bercita – cita menjadi seorang presiden?
“ Sudah – sudah tidak boleh mentertawakan, cita – cita Ahmad sangat bagus, seharusnya harus menjadi contoh yang baik” ujar Kak Sil. Kak Sil merupakan Mahasiswa yang pintar di Universitas ternama di Jakarta. Dia selalu memberikan bantuan kepada aku dan teman – teman. dan Kak Yudi juga merupakan slah satu Mahasiswa yang pintar di Universitas swasta ternama di Ibu kota Jakarta. Aku salut dengan kebaikkan yang di berikan Kak Yudi dan Kak Sil, mereka hanya segelintir dari Mahasiswa di Indonesia yang peduli dengan rakyat kecil, beda dengan Pemerintah yang hanya memikirkan kesenangan semata, tidak peduli dengan kami semua.
Terima kasih Kak Yudi terima kasih Kak Sil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar